the crescent moon girl
Home message ARCHIVEnetworks
posted by sarah at Jumat, Januari 21, 2011


Aku adalah seorang gadis biasa. Bagiku tak ada yang spesial dari hidupku. Hari-hariku biasa saja, hanya satu hal yang membuat hariku berbeda : meniup dandelion. Sejak kecil aku sering pergi ke bukit dandelion tak jauh dari rumahku. Tempat itu sangat indah namun tak kan ada orang yang dengan sengaja pergi kesana sehingga tempat itu sangat sempurna bagiku untuk mengungkapkan perasaananku, meneriakkan kesedihanku dan kesepianku. Disana terdapat padang dandelion yang dengan setia mendengarkan keluhanku dan satu hal yang paling menyenangkan bagiku yaitu meniup dandelion-dandelion yang akan membawa kesedihanku, kesepianku, ceritaku dan harapan-harapanku.

Satu bulan yang lalu dokter memvonis hidupku tak lama lagi, aku menderita kanker otak yang tak kan bisa terobati dan sejak saat itu hari-hariku terasa sangat menyakitkan. Aku tidak memiliki sahabat atau orang yang dapat menghiburku, kedua orangtuaku telah tiada dan saat ini aku diasuh oleh bibiku. Sejak aku tau hidupku tak lama lagi aku tidak bicara pada siapapun termasuk bibiku, aku menghabiskan seluruh hariku dengan meniup dandelion dan menunggu dandelion terakhirku kan kutiup dan harapan terakhirku terbang.

Hari ini aku pergi ke padang dandelion-ku, disana aku bertemu dengan seseorang yang tak pernah kutemui sebelumnya.
“hi..” sapanya padaku. Aku hanya tersenyum padanya dan berjalan ke bawah pohon di bukit itu, mengambil catatanku yang kusembunyikan didekat pohon itu dan mulai menulis, ia pun datang menghampiriku dan duduk disampingku.
“hi..:” sapanya kembali “namaku Leon, kamu siapa?” tanyanya padaku. Sebenarnya aku tak ingin menjawab pertanyaannya tapi entah kenapa aku tetap menjawab.
“aku Pia” jawabku, sudah lama aku tidak mengobrol dengan orang lain, orang-orang menganggap kebisuanku selama ini adalah bentuk kemarahanku pada penyakitku tapi sebenarnya aku membutuhkan seseorang untuk diajak bicara, bukan sekedar dandelion dan buku catatan.
“Aku sedang berlibur disini, mungkin agak lama jadi kuharap kita bisa berteman, ia kan?” tanyanya padaku. Aku hanya mengannguk sambil tersenyum kecil.
“kamu sering kesini ya? Ngapain?” tanyanya kembali, aku mulai paham bahwa ia adalah seorang yang periang, kupikir hidupnya pasti sangat menyenangkan dan ia pasti tak pernah merasa kesepian sepertiku.
“iya, aku kemari untuk menulis dan meniup dandelion” jawabku. Bodoh, pasti itu yang dipikirkannya tentangku, meniup dandelion? Pasti menurutnya itu hal yang sangat bodoh.
“meniup dandelion? Dandelion itu apa?” ia kembali bertanya. Entah mengapa, beberapa menit bersamanya aku merasa sangat nyaman, aku pun pergi memetik dandelion dan meniupnya.
“seperti ini, inilah dandelion” aku menunjuk hamparan dandelion didepanku.
“ini, tiuplah dandelion ini dan jangan lupa sampaikan harapanmu pada dandelion ini agar ia bisa membawa harapanmu dan menukarnya dengan keajaiban” ia lalu menutup matanya dan meniup dandelion itu
“kau tau? Ini pertama kalinya aku meniup dandelion, menyenangkan ya” begitulah komentarnya
“benarkah” tanyaku, “iya, oh iya Pia, maukah kau menemaniku meniup dandelion disini sampai aku menghabiskan liburanku?” tanyanya. Pertanyaan itu membuat jantungku berdetak kencang, entah mengapa aku merasa ingin tetap hidup dan menemaninya meniup dandelion, ini pertama kalinya aku merasakan perasaan seperti ini dan aku kebingungan.
“baiklah, aku berjanji akan menemanimu meniup dandelion disini setiap hari, dantanglah kesini jam empat dan aku akan berada disini” itulah janjiku padanya, aku lupa umurku tak akan panjang lagi dan kini aku mulai takut bagaimana jika aku mati sebelum ia pergi.

Sejak hari itu, setiap hari kami bertemu di bukit dandelion, bukit itu tak lagi menjadi bukit dandelionku melainkan bukit dandelion kami. Aku tak pernah memikirkan lagi kapan aku akan mati atau apakah harapan terakhirku yang dibawa dandelion-dandelion itu, yang kupikirkan hanyalah aku ingin meniup dandelion setiap hari bersama Leon.

Hari demi hari kulewati dan hubunganku dengan Leon semakin baik bahkan sudah sangat akrab. Sore ini kami akan bertemu lagi dan aku mulai memikirkan obrolan yang akan kami bicarakan nanti dan apa yang akan kami lakukan nanti dan tiba-tiba aku teringat kata-katanya saat kami baru pertama bertemu “…Ini pertama kalinya aku meniup dandelion…” katanya waktu itu, jika itu adalah pertama kalinya ia meniup dandelion, artinya dandelion itu membawa harapan pertamanya, pikirku. Jantungku kembali berdetak cepat, aku ingin tau apa harapan pertamanya.
“hi… Pia” sapanya saat kami bertemu di bukit dandelion
“hi...” jawabku, “jadi apa yang akan kita lakukan hari ini?” tanyaku bersemangat
“kita akan meniup dandelion dan pergi ke sungai itu” ia menunjuk sungai yang berada di dekat bukit ini. Akhir-akhir ini, kami mengisi waktu sore kami tidak hanya dengan meniup dandelion tapi juga berjalan-jalan disekitar desa.
“baiklah” jawabku, kami pun membisikkan harapan kami pada dandelion lalu meniup dandelion itu, selanjutnya aku akan pergi ke sekitar pohon, mengambil catatanku, menuliskan perasaanku hari ini , menyimpannya ke dalam toples anti air dan kembali menyimpannya, tentu saja saat aku menyimpan catatanku itu aku selalu menyuruh Leon berbalik agar ia tak bisa melihat dimana aku menyembunyikan catatanku itu, aku tidak ingin dia tau bahwa aku sangat bahagia berada disampingnya dan kupikir aku tak ingin meninggalkannya, aku juga tak mau dia tau bahwa aku mengidap penyakit kanker otak.
“selesai, ayo kita pergi” kataku. Lalu kami pun berjalan menuju sungai.
“Leon, aku boleh nanya sesuatu nggak?” tanyaku memulai percakapan
“apa?” jawabnya.
“dulu, waktu pertama kali kita bertemu, kamu bilang kamu tidak pernah meniup dandelion artinya harapan kamu waktu itu adalah harapan pertama kamu ia kan?”
“iya, kenapa?” tanyanya. “aku boleh tau nggak apa harapan kamu waktu itu?” lanjutku.
“hhmmm… t i d a k” jawabnya tegas
“aku akan memberi taumu suatu saat nanti tapi tidak sekarang” lanjutnya. Sejujurnya saat itu aku merasa sangat sedih dan aku takut aku tidak memiliki banyak waktu hingga aku mengetahuinya.
“sudah sampai” katanya tiba-tiba, memecahkan lamunanku. Kami melakukan banyak hal menyenangkan di sungai, Leon bermain bersama anak-anak kecil disungai dan aku hanya memandangnya dari kejauhan dan melanjutkan lamunanku.

******


Sudah tiga bulan berlalu dan setiap sore aku dan Leon selalu meniup dandelion. Hingga saat ini Leon belum tau bahwa sebenarnya umurku tak kan lama lagi dan ia belum memberi tau ku tentang harapan pertamanya. Keadaanku semakin memburuk, aku sering pingsan dan Leon harus menggendongku pulang kerumah, saat ia bertanya tentang penyakitku aku hanya menjawab aku kelelahan atau mencari alasan lainnya.
“nanti sore, kamu pamitan ya sama teman kamu itu” itulah pernyataan bibi hari ini padaku
“kenapa? Aku tidak akan pergi kemana-mana” tanyaku. Kata bibi dokter menyuruhku tinggal di rumah sakit karena keadaanku sudah sangat lemah dan aku juga merasakan hal itu. Bibirku pucat dan aku sangat sering pingsan saat berada di bukit dandelion dan setiap kali Leon bertanya tentang penyakitku aku terus menjawab bahwa aku kelelahan.

Sore ini langit mendung seolah tau bahwa hari ini aku akan menjalani sesuatu yang berat dan saat tiba di bukit dandelion aku melihat Leon berdiri membawakan seikat bunga dandelion, ia pasti berusaha keras mengumpulkan dandelion-dandelion itu, pikirku.
“ini” katanya sambil menyerahkan dandelion itu padaku
“hari ini adalah hari spesial jadi aku ingin kita meniup dandelion yang lebih banyak daripada biasanya agar lebih banyak harapan yang akan kita tukar dengan keajaiban” jelasnya.
Setelah meniup dandelion itu, aku menuliskan harapanku di catatanku, lalu kami duduk dibawah pohon.
“hari ini catatan kamu panjang ya? Lama banget sih, padahal aku memiliki dua kabar spesial untukmu” katanya memulai percakapan sore kami.
“yang mana dulu, baik atau buruk” tanyanya. Sejujurnya aku sudah tidak tahan lagi, kepalaku terasa sangat sakit tapi aku berusaha menahannya.
“hhmmm.. buruk” kataku tanpa berpikir
“baiklah, kabar buruknya adalah aku akan pulang besok pagi” katanya dengan cepat. Aku sudah tidak bisa lagi menahan sakit kepalaku dan saat ia mulai mengatakan kabar baiknya, aku pingsan.

******

Leon sangat keget saat Pia pingsan disampingnya, ia lalu menggendong Pia kerumah dan bibinya sangat khawatir. Semua terjadi begitu cepat dan saat ini Leon, Pia dan bibinya sudah berada di rumah sakit.
“memangnya Pia sakit apa te?” tanya Leon pada bibi Pia
“loh, kamu belum tau, Pia tidak menceritakannya padamu?” Tanyanya pada Leon
“tidak, Pia tidak pernah menceritakan masalah itu” jawab Leon dengan khawatir
“Pia… Sebenarnya dia… dia… dia mengidap kanker otak, dan kata dokter penyakitnya mungkin tidak bisa disembuhkan lagi” jawab bibi Pia sambil menangis.

Leon terdiam, beberapa saat kemudian dokter yang memeriksa Pia menemui bibinya dan mengatakan keadaan Pia sangat lemah, saat ini ia sedang koma dan dirawat diruang ICU. Saat Leon menerima kabar ini, ia pun berlari memasuki ruang Pia dirawat dan dokter maupun bibi Pia tidak mampu menghalanginya.
“Pi, kamu mau dengar kabar baiknya nggak?” tak terdengar jawaban. Lalu Leon menggenggam tangan Pia.
“oke, aku beri tau kamu ya, kabar baiknya harapan pertamaku pada dandelion itu adalah semoga kamu bisa mencintaiku karna sejak pertama kali melihat kamu aku jatuh cinta sama kamu. Saat pertama kali melihat kamu aku merasa aku ingin memilikimu, Jadi kamu harus sembuh ya dan kita akan bahagia selamanya, kamu kan sudah janji akan selalu menemaniku meniup dandelion” kata Leon dengan lembut, saat itu ia merasakan tangan Pia membalas genggaman tangannya dan saat itu pula napas Pia terhenti.

******

Malam itu Leon pulang kerumahnya dan berkemas, keesokkan harinya Leon pergi ke bukit dandelion untuk terakhir kalinya karna liburannya telah berakhir. Leon memetik setangkai dandelion dan meniupnya, lalu matanya tertuju pada toples berwarna kuning yang berada didekat pohon. Itu pasti catatan Pia pikirnya, lalu ia duduk dibawah pohon itu dan mulai membaca catatan Pia hingga ia membaca catatan terakhir Pia.

Diary-ku, hari ini Leon memberiku segenngam dandelion, katanya hari ini hari spesial dan kami harus meniup lebih banyak dandelion agar kami bisa mendapat banyak keajaiban. Bagiku duduk bersamanya hari ini merupakan keajaiban. Kehadiran Leon sangat berarti bagiku, ia adalah orang pertama yang membuatku ingin tetap hidup, hari-hari bersamanya adalah hari yang terindah yang pernah kulalui, dan hari ini aku merasa takut aku tidak bisa menemaninya meniup dandelion lagi, entah mengapa aku merasa dandelion hari ini adalah dandelion terakhirku, kau merasakannya? Yah, besok aku harus pergi dan aku tidak bisa meniup dandelion bersamanya lagi kecuali jika penyakitku ini sembuh dan kupikir itu tidak mungkin, iya kan? Mungkin memang benar, dandelion hari ini adalah dandelion terakhirku dan harapanku hari ini adalah harapan terakhirku.
Dandelion, sejujurnya aku berharap Leon tau bahwa aku mencintainya dan seandainya aku harus pergi meninggalkannya kuharap aku mengetahui perasaannya padaku. Dandelion terimakasih telah membawakan keajaiban bagi kami selama ini, dan kumohon berikanlah keajaibanmu lagi hari ini, esok dan seterusnya padaku dan pada Leon. Terima kasih telah membawakan satu keajaiban terbesar dalam hidupku : Leon.

******

Hari ini aku kembali ke Jakarta, liburanku disini telah berakhir. Sesungguhnya liburanku kali ini adalah liburan terbaik yang pernah kulalui juga liburan terburuk yang pernah kualami. Padahal sebelumnya aku berharap aku bisa kembali lagi menemui Pia dan meniup dandelion bersamanya, tapi Pia telah pergi.

Kembali ke rutinitas awalku, hari ini aku pergi ke kampus membawa perasaanku pada PIa, sungguh aku tak bisa melupakannya dan kupikir takkan pernah bisa.
“eh tau nggak, kemarin ada mahasiswi baru lho, elo harus ketemu dia” kata Rei, ia adalah sahabatku di kampus.
“apa hubungannya denganku?” jawabku
“sejak dia masuk ke kampus ini, dia nyariin lo terus, gue juga bingung kok dia bisa kenal sama lo, lo kan bukan seleb” jawabnya sambil bercanda
“udahlah, gue nggak mau ngebahas mahasiswi baru itu” sanggahku
“eh, tapi dia cantik lho, nah tuh dia datang” jawab Rei sambil menunjuk seorang gadis yang baru saja memasuki ruangan tampat kami berada saat ini.
“kamu kenal dia nggak” tanya Rei. Aku tak mampu menjawab pertanyaan itu, semua ini terasa sangat tidak masuk akal.

******

Gadis itu tersenyum padaku lalu berjalan kearahku, aku tak tau apa yang harus kulakukan, apakah semua ini benar benar terjadi atau ini hanya mimpi, bagaimana mungkin Pia berada didepanku dan membawakanku setangkai dandelion!
(21 January 2011)


Personal Note : jadi ceritanya gw lagi iseng buat cerpen dan jadinya begini.
nih cerpen khayalan banget deh, masa ada orang idup lagi ^^
ceritanya juga biasa banget
but, I love this one

Label:

the crescent moon girl
Just look up we are both under the same starry sky
navigation
By Labels : blog, juststory, traveljournal, review buku, 0812ss
info

ABOUT Personal blog with random post
ESTABLISHED November 2009
ONLINE
HITS
CREDIT 1 | 2 | 3 | 4 | ♥