the crescent moon girl
Home message ARCHIVEnetworks
posted by sarah at Selasa, Maret 15, 2011


Nah, ceritanya beberapa hari yang lalu gw nyari-nyari kisah “Daun, Pohon dan Angin” rencananya buat copas di blog (hahaha.. ketauan de!) terus ketemu ama sebuah blog yang nge-posting resensi novel “DAUN YANG JATUH TAK PERNAH MEMBENCI ANGIN” terus jadi penasaran ama tuh novel coz katanya tuh novel keren and seru deh. Jadi setelah berkesempatan ke toko buku, gw nyari tuh novel terus nanya ama customer toko bukunya (keren loh orangnya). Kalo kita nanyain buku kan nyarinya di komputer awalnya aku nanyain novel Mockingjay tapi belum terbit, terus pas aku bilang “kalo novel daun yang jatuh” dia langsung bilang “daun yang jatuh tak pernah membenci pohon ya?” gw jawab “iya” terus dia berdiri and langsung ngambil novelnya (gw : langsung tersepona, maksudnya terpesona hahaha!), ternyata cuma sekitar tiga meter dari tempat gw berdiri (dalam hati gw mikir : dasar Sarah, ngga teliti banget sih, tadikan uda lewat situ, masa ngga keliatan) akhirnya disinilah saya, akan meresensi tuh novel ala Sarah pastinya!
Cerita pembuka nya panjang banget ya, jadi biar kalian ngga bosen kita langsung bahas identitas bukunya :

Judul : DAUN YANG JATUH TAK PERNAH MEMBENCI ANGIN
Penulis : Tere-Liye
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tanggal terbit : Juni 2010
Jumlah halaman : halaman 264
Kategori : Novel


“Dia bagai malaikat bagi keluarga kami. Merengkuh aku, adikku, dan ibu dari kehidupan jalanan yang miskin dan nestapa. Memberikan makan, tempat berteduh, sekolah, dan janji masa depan yang lebih baik.

Dia sungguh bagai malaikat bagi keluarga kami. Memberikan kasih-sayang, perhatian, dan teladan tanpa mengharap budi sekalipun. Dan lihatlah, aku membalas itu semua dengan membiarkan mekar perasaan itu. Tapi apa yang bisa kulakukan? Perasaan itu datang begitu saja..

Ibu benar, tak layak aku mencintai malaikat keluarga kami. Tak pantas. Maafkan aku ibu, perasaan kagum, terpesona, atau entahlah itu muncul tak tertahankan bahkan sejak rambutku masih dikepang dua….

Dan sekarang, ketika aku tahu dia boleh jadi tidak pernah menganggapku lebih dari seorang adik yang tidak tahu diri, maka biarlah…. Biarlah aku luruh ke bumi seperti sehelai daun… daun yang tidak pernah membenci angin meski harus terenggutkan dari tangkai pohonnya…"


Itulah kata-kata pembuka novel ini. Ceritanya ada seorang anak berumur sebelas tahun, namanya Tania. Tania adalah seorang anak yang pintar dan cantik, tapi ayahnya meninggaln tiga tahun lalu sehingga ia dan adiknya (Dede) terpaksa putus sekolah dan mengamen untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya serta mengobati ibunya yang sakit-sakitan. Suatu hari saat Tania dan Dede sedang mengamen, kaki Tania terkena paku payung dan disinilah ia bertemu dengan ‘malaikat’ keluarga mereka. Danar namanya, ia berusia duapuluh tahun saat itu. Danar membiayai sekolah sekolah Tania dan Dede. Danar adalah seorang yatim-piatu, ia merupakan seorang yang sangat menyenangkan, matanya memancarkan keteduhan (pokoknya perfect deh ^^). 
Beberapa tahun kemudian hidup Tania sudah sangat berubah, berkat om Danar (panggilan Tania dan Dede) Tania dan Dede tidak perlu lagi mengamen, ibu Tania pun diberi modal oleh Danar untuk membuka usaha kue dan usaha ini pun berhasil. Namun hal ini tidak berlangsung lama, ibu Tania meninggal karena sakit lalu Tania dan Dede pindah ke rumah Danar. 
Tania mendapatkan beasiswa ke Singapura dan melanjutkan sekolahnya disana. ternyata Tania menyukai Danar sejak pertama kali ia bertemu, tapi umur mereka terlalu jauh. Setelah beberapa tahun akhirnya Danar menikah dengan Kak Ratna (Tania sudah kenal dengan Kak Ratna sejak kecil, bahkan sebelum ibunya meninggal) dan ini membuat hati Tania sakit. Tania tidak mau menghadiri pernikahan kakaknya (panggilan baru Tania) dan memilih tinggal di Singapura. Lama setelah kejadian itu Tania tak pernah berhubungan secara langsung dengan kakaknya, ia hanya menyampaikan salam melalui adiknya dan sebaliknya. Suatu hari Kak Ratna menceritakan bahwa sudah enam bulan ia tidak saling bicara dengan Danar. 
Danar berubah. Danar sering pulang malam dan saat ditanya ia hanya diam. Kak Ratna pun akhirnya pindah ke rumah orangtuanya dan Tania tidak tahan lagi melihat perlakuan Danar. Tania pulang ke Indo and nemuin Kak danar, tapi ia menemukan hal aneh. Ternyata Dede melihat naskah novel buatan Danar isinya tentang seseorang yang jatuh cinta pada seorang anak yang umurnya jauh lebih muda darinya. Ternyata Danar juga cinta sama Tania tapi kan dia udah nikah. Akhirnya Tania menemui Danar, ia marah karna Danar tidak pernah mengatakan padanya padahal ia tau bahwa Danar tau Tania suka sama Danar. Tania mengatakan Kak Ratna sedang hamil empat bulan dan meminta Danar untuk memperhatikan Kak Ratna dan hari itu juga Tania pulang ke Singapura dan tak ingin kembali.
Novel ini ngelibatin emosi and berhasil membuatku mengeluarkan air mata selama ngebaca. Novel ini juga memiliki alur yang menarik. Didalam novel ini Tania berdiri di dalam sebuah toko buku dan mengenang sepuluh tahun yang telah berlalu selama satu jam.

Pokoknya buat kamu yang suka novel, rugi deh ngga baca :)

Label: ,

the crescent moon girl
Just look up we are both under the same starry sky
navigation
By Labels : blog, juststory, traveljournal, review buku, 0812ss
info

ABOUT Personal blog with random post
ESTABLISHED November 2009
ONLINE
HITS
CREDIT 1 | 2 | 3 | 4 | ♥