the crescent moon girl
Home message ARCHIVEnetworks
posted by sarah at Kamis, April 21, 2011

Aku adalah Awan. Sama seperti Awan lainnya, aku senang menari-nari di atas sini. Dilangit luas yang menjadi tempatku selama ini. Suatu hari aku melewati padang rumput yang sangat luas. Tempat itu sama seperti tempat-tempat lainnya yang telah kulewati. Suatu ketika aku memperhatikan Daun kecil yang sangat berbeda. Daun itu seolah tersenyum padaku. Daun itu berada di ujung ranting yang terlihat rapuh. Aku berani bersumpah bahwa ia pasti adalah Daun yang paling bahagia diantara daun-daun lainnya.


Angin berhembus hendak membawaku ke bagian lain langit ini, tapi aku memilih untuk bertahan disini. Entah mengapa aku merasa sangat bahagia menari-nari di atas padang rumput ini.


Daun itu kini berpisah dengan pohonnya. Ia tetap terlihat bahagia dan terlihat semakin tegar. Lalu angin mengajaknya menari. Ia menari-nari bersama rerumputan di padang itu. Ia menari bersamaku. Saat angin berhenti bertiup, ia berbaring di atas tanah, tetap dengan wajah tersenyum padaku. Aku merasakan kini ia berada lebih dekat denganku. Aku ingin ketempat itu. Entah mengapa aku ingin berada disampingnya, menemaninya melebur bersama tanah. Aku menyaksikan ia menyatu bersama tanah. Aku masih tetap merasakan kehadirannya walaupun kini ia telah menghilang.
Daun itu telah lenyap. Aku masih bertahan disini. Masih merasakan ia tersenyum di bawah sana. Masih mengharapkan dapat turun ke bawah sana.

Suatu ketika, perubahan terjadi pada diriku. Hujan. Aku menjadi butiran air yang turun kebawah sana. aku bahagia. Aku berharap jiwanya masih berada disana. aku ingin menanyakan mengapa ia selalu tersenyum padaku. Tapi Daun itu sudah lama lenyap. Aku memang masih merasakan kehadirannya. Tapi aku tak menemukannya.

Kini aku menjadi genangan air di padang rumput ini. Matahari terus menerus menyinari tempat ini. Lalu terdengar tanah berkata : “Hey Awan! Kulihat kini kau telah menjadi hujan. Apakah kau menyadari bahwa Daun yang dulunya berada di tempat ini selalu memperhatikanmu? Apakah itu alasannya kau berada disini?”

“Entahlah. Dimana Daun itu?” jawab Awan singkat.

“Daun itu sudah tiada, ia kini bersama daun-daun dan hewan-hewan yang telah mati lainnya. Ketahuilah bahwa ia sangat sering mengagumimu dari sini” jawab tanah.

“benarkah?” Awan menjawab dengan perasaan sedikit bingung.

“Kau tau? Kau tak akan pernah bertemu dengannya lagi. Jika kau Daun, kau masih bisa menemuinya lagi saat kau menjadi mineral, tapi kau adalah air. Kau akan segera menguap dan kembali menjadi Awan” Jawab tanah.

Obrolan singkat itu membuat Awan merasa sedih. Ia kembali memikirkan perkataan tanah. “Apa alasanku berada disini? Mungkinkah karna Daun? Yah, aku bertahan di atas padang rumput ini karna aku merasa bahagia saat ia tersenyum padaku. Tanah itu benar, mungkin aku berada disini karna Daun, tapi benarkah aku tak kan pernah bertemu dengan Daun itu lagi. Apa yang harus kulakukan?” pikir Awan.

Matahari terus bersinah dan genangan air itu menghilang menjadi Awan. Sampai saat ini, Awan itu tetap berada diatsa padang rumput itu. Berharap dapat bertemu Daun-nya lagi.

*****

note : hahaha.. ngga nyambung lagi deh cerita aneh ini XD
but, I still love this story
ceritanya aneh banget ya? entah dapat inspirasi darimana nih. jujur ya, pas bikinnya gw benar-benar ngga mikir, tiba-tiba udah jadi cerita. hahaha.
gw sih tau kalo nih cerita ada hikmahnya, tapi biar kalian ndiri aja ya yang ngambil hikmahnya :D
maaf kalo ceritanya menyesatkan! hahaha.
ntar kapan-kapan disambung lagi deh ceritanya (maksa mode : 0n).

Label:

the crescent moon girl
Just look up we are both under the same starry sky
navigation
By Labels : blog, juststory, traveljournal, review buku, 0812ss
info

ABOUT Personal blog with random post
ESTABLISHED November 2009
ONLINE
HITS
CREDIT 1 | 2 | 3 | 4 | ♥